Text
Akulah Darah yang Mengalir di Nadimu
Membaca puisi-puisi Endut Ahadiat dalam buku puisi ini berjudul Akulah Darah yang Mengalir di Nadimu (2023) seakan-akan kita dihadapkan kepada sekian “Semiotika Cinta”. Semiotika yang diartikan oleh para pakar Semiotika sebagai sistem tanda, tetapi dibantah oleh yang lain sebagai proses pemaknaan, sangat kental dalam puisi-puisi Endut—tetapi kental mengenai cinta, cinta yang bercabang-cabang atau meminjam prosais Perancis, Guy de Maupassant, cinta yang terbagi ibarat aliran sungai. Cinta yang bercabang itu dapat berupa cinta tanah air, cinta nostalgia, cinta agama, dan cinta pribadi. Jadi, tema cinta ini dominan dalam puisi-puisi Endut sebagai tema yang ia kedepankan.
Tidak tersedia versi lain